Penyuap Pejabat Bakamla Diminta Segera Menyerahkan Diri

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan telah mengetahui posisi Direktur Utama PT Melati Technofo Indonesia (MTI), Fahmi Dharmawansyah yang menjadi tersangka kasus dugaan suap terkait proyek satelit monitor di Badan Keamanan Laut (Bakamla). Suami Inneke itu disebut berangkat ke luar negeri dua hari sebelum Tim Satgas KPK menangkap dua pegawainya, M Adami Okta dan Hardy Stefanus lantaran memberikan uang yang diduga suap sebesar Rp 2 miliar kepada Deputi Informasi Hukum dan Kerja sama sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama (Sestama Bakamla), Eko Susilo Hadi, pada Rabu (14/12). Juru bicara KPK, Febri Diansyah menyatakan pihaknya telah mengetahui secara pasti lokasi Fahmi saat ini. Meski enggan menyebut lokasi pasti, Febri menyatakan, tim penyidik terus memonitor pergerakan Fahmi. “Tentu saja, kami mengetahui posisi persis (Fahmi) dan kita selalu update soal itu,” kata Febri di Gedung KPK, Jakarta, Senin (19/12). Meski demikian, Febri menyatakan, pihaknya belum merasa perlu mengirimkan red notice kepada Interpol atau melakukan upaya paksa lainnya untuk menjemput Fahmi. KPK, kata Febri masih berharap Fahmi dapat bersikap kooperatif dengan menyerahkan diri. “Kita masih berharap sikap kooperatif dan segera menyerahkan diri ke KPK,” katanya. Febri menegaskan, pihaknya telah berulang kali menghadapi situasi tersangka yang berada atau melarikan diri ke luar negeri. Sejauh ini, KPK selalu berhasil bekerja sama dengan penegak hukum di luar negeri untuk menangkap atau memulangkan para buronan itu kembali ke Indonesia. Untuk itu, Febri kembali mengimbau agar Fahmi menyerahkan diri dan mengikuti proses hukum terkait kasus yang menjeratnya. “Sudah berulang kali sebenarnya ada peristiwa-peristiwa ketika tersangka di luar negeri dan kemudian tidak kooperatif. Sejauh ini kami selalu bisa menyelesaikan semua itu dengan kerjasama dan koordinasi yang baik di tingkat internasional. Jadi harapannya tentu tidak ada pikiran untuk mengikuti jejak yang sama soal itu. Jadi sebaiknya memang sikap kooperatif itu akan lebih menguntungkan baik bagi tersangka maupun bagi pengungkapan perkara ini,” tegasnya. Fana Suparman/YUD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu