Bekraf Dukung Industri Kreatif di Banyuwangi

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi berupaya mendorong pengembangan industri kreatif berbasis desa, lewat dukungan yang diberikan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bagi kabupaten yang ada di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, sinergi dengan Bekraf akan dijalin dari sisi penyelenggaraan event tourism lewat Banyuwangi Festival. Bekraf bisa mendukung dari sisi pengembangan kreasi, jaringan, dan infrastruktur industri kreatif lainnya. “Misalnya, Bekraf memfasilitasi peningkatan kualitas bermusik anak-anak muda Banyuwangi, yang nantinya tampil di festival-festival di Banyuwangi dan bisa juga diorbitkan ke festival di daerah lain oleh Bekraf,” kata Anas, saat melakukan video call dengan fasilitas LINE dengan jajaran Pemkab Banyuwangi, Kamis (8/9). Anas sendiri kini sedang menunaikan ibadah haji, sehingga memanfaatkan LINE untuk terus berkoordinasi dengan jajarannya. Bekraf merumuskan ada 16 subsektor kreatif, yaitu fashion, kriya (kerajinan), arsitektur, aplikasi-pengembangan game, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, film, seni pertunjukan, seni rupa, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, televisi, dan radio. Dari 16 subsektor tersebut, Banyuwangi memilih fokus untuk tujuh subsektor saja, yaitu fashion, kriya (kerajinan), seni rupa, seni pertunjukan, kuliner, musik, dan desain komunikasi visual. Pilihan terhadap enam subsektor tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan Banyuwangi dan subsektor yang paling berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Untuk fashion, misalnya, saat ini industri batik dan busana untuk oleh-oleh sedang bergeliat. Para perajin batik dan produsen busana yang menyasar pasar wisatawan pun bermunculan. Demikian pula subsektor lain seperti kuliner, di mana Banyuwangi memiliki sejumlah kuliner khas yang banyak diminati seperti rujak soto, pecel pitik, aneka kopi, dan olahan buah. “Untuk subsektor kerajinan, Banyuwangi berpotensi besar. Banyak perajin sudah ekspor dan memasok ke Bali. Kami juga menggelar Using Traditional Furniture Festival pada 6-10 Desember mendatang bareng dengan Banyuwangi Painting and Photography yang mengakomodasi seni rupa Banyuwangi. Banyak pelukis Banyuwangi yang karyanya telah dikenal, tapi kita perlu lahirkan generasi-generasi baru,” papar Anas. Anas menambahkan, subsektor yang menjadi pendukung subsektor lainnya adalah desain komunikasi visual. Banyuwangi membutuhkan desain komunikasi visual untuk memasarkan produk kreatif yang ada. Di Banyuwangi telah berdiri Rumah Kreatif dengan dukungan salah satu perbankan yang di dalamnya juga berisi fasilitasi desain bagi para UMKM. “Jika Bekraf turun tangan mengembangkan subsektor desain komunikasi visual tentu pemasaran berbagai produk dan jasa industri kreatif di Banyuwangi bakal kian progresif. Desain komunikasi visual ini penting karena produk bisa bagus, tapi tanpa komunikasi visual yang memadai, dia tak akan laku di pasar,” papar Anas. Feriawan Hidayat/FER BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu