Coretan Kesaksian Hendrikus di Balai Budaya Jakarta

Jakarta – Seniman Hendrikus David menggelar pameran tunggal seni rupa bertajuk “Kesaksian” di Balai Budaya Jakarta, Jl Gereja Theresia 47 , Menteng, Jakarta Pusat, hingga 9 Desember 2016. Pameran yang resmi dibuka pada Kamis (1/12) ini tak hanya menampilkan lukisan dan kartun di atas kanvas atau kertas, tapi juga beragam media. “Kesaksian maksudnya adalah fenomena banyak hal yang saya simak lewat buku, internet, media massa, dan kejadian di sekitar. Sebagian yang saya tangkap, saya maknai dan inilah hasilnya. Saya adalah salah satu saksi peristiwa yang dialami bangsa ini,” tutur perupa alumnus Institut Kesenian Jakarta ini. Menurut Hendrikus, seluruh karya yang ada juga merekam perjalanan politik bangsa Indonesia. Ada banyak rekam jejak peristiwa yang menggambarkan tokoh-tokoh yang saling berebut pengaruh dengan mengatasnamakan rakyat. Mereka tidak hanya melakukan korupsi, tapi juga memecah belah bangsa ini. “Dalam konteks kekinian, masih banyak orang yang kadang mengatasnamakan rakyat demi kepentingan pribadi dan golongan. Mereka seolah mengorbankan persatuan, semangat perdamaian, dan kebhinekaan bangsa ini. Barangkali menurut ungkapan keprihatinan saya, kita masih butuh tokoh-tokoh pluralisme yang terus menyuarakan isu-isu kemanusiaan lewat banyak cara dan beragam bidang,” paparnya. Selama ini, Hendrikus memang dikenal sebagai kartunis di surat kabar Suara Pembaruan. Jadi tidak heran, sebagian besar karya yang dipamerkan adalah karikatur, kartun, atau sekadar ilustrasi. Namun dalam pameran yang dikuratori Frigidanto Agung ini, dengan gaya ekspresionis, Hendrikus juga memperlihatkan kematangannya dalam menorehkan kuas di atas kanvas. Tak sungkan menoreh warna-warna cerah dan berani memainkan perpaduan warna gelap. “Saya memang mengagumi ketokohan Fidel Castro yang membuat dia dicintai seluruh rakyat Kuba. Entah mengapa saya sangat ingin melukisnya. Lukisan itu akhirnya selesai, selang beberapa waktu sebelum tokoh besar Kuba itu meninggal dunia,” kenang kartunis Pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2013. Beberapa karya lukisan Hendrikus menampilkan wajah-wajah ekspresi tokoh dunia dari beragam kalangan. Selain Fidel Castro, ada juga Bunda Teresa, Freddie Mercury, Mick Jagger, John Lennon dan Yoko Ono, bahkan tokoh pluralisme Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelukis Aisul Yanto pun menyambut gembira pameran seni rupa Hendrikus David. Pameran ini mencerminkan kegairahan seniman muda dan Balai Budaya Jakarta memang menyediakan tempat untuk para seniman muda untuk berekspresi. Wadah para seniman bersejarah ini sejak dulu telah dikenal sebagai sarana bagi para seniman rupa berkarya. “Kami tidak ingin tempat bersejarah ini dilupakan orang. Ini tempat para seniman yang dikelola oleh seniman untuk seniman. Maka dari itu, kami selalu membuka kesempatan kepada para seniman muda untuk menampilkan karya-karyanya. Balai Budaya Jakarta selalu terbuka,”ujarnya. Sesuai jadwal, pameran ini juga dimeriahkan dengan diskusi seni pada Jumat (2/12) pukul 15.00 -18.00 WIB. Diskusi ini akan menampilkan pembicara Kartunis Senior Sudi Purnomo dengan tema Peran Kartunis dalam Dunia Industri Kreatif. Pada Sabtu (3/12) pukul 15.00 -18.00 WIB, Perupa Agus Junawan akan menampilkan atraksi langsung membuat sketsa wajah. Atraksi melukis model langsung di tempat juga akan ditampilkan seniman Ireng Halimun pada Senin (5/12) pukul 15.00 -18.00 WIB. Pameran seni rupa bertajuk Kesaksian ini juga dimeriahkan oleh lomba menggambar untuk anak-anak bersama Hendrikus. Lewat karya berjudul “Rest in Peace (RIP) Penegakan Hukum”, Hendrikus pernah meraih penghargaan Adinegoro tahun 2013. Dia membuat karikatur demokrasi dalam sosok pria berkaki bunting yang sedang berziarah ke makam “penegak hukum” dan karikatur itu dimuat di harian Suara Pembaruan pada 17 Oktober 2013. Unggul Wirawan/WIR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu