Catatan Pengelana Sepak Bola: Cinta Membawaku Kembali

Beragam cara dilakukan orang dalam mengungkapkan cintanya terhadap sepak bola. David Beckham dalam film dokumenter terakhirnya “David Beckham: For the Love of the Game” paling dekat menggambarkan apa yang dirasakan penulis. Bahwa kecintaan pada sepak bola adalah analogi kepedulian kepada dunia dengan segala kompleksitasnya. Bermain bola di 7 benua dalam waktu 10 hari bukan sekadar uji fisik, tetapi penyampaian makna simbolik peran sepak bola. Sang superstar berkeliling 7 benua, bermain bola dengan siapa saja sekaligus mencoba memberikan perhatian pada masalah krusial di benua-benua tersebut. Dari Papua Nugini, bermain dengan tim lokal sekaligus mengangkat isu malnutrisi anak-anak yang sangat tinggi di sana, pindah ke Khatmandu, Nepal bermain tim sepak bola sekolah sekaligus melihat kembali perkembangan kondisi recovery negara tersebut pasca-bencana alam. Kemudian ia meengunjungi Buenos Aires, mendatangi daerah dengan kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus bermain bola di sana. Setelah itu, berturut-turut Afrika, Antartika, Amerika Serikat dan kembali di tanah airnya, Inggris, dalam waktu tidak lebih dari dua minggu. Cinta itu yang membawa Beckham melakukan seri pertandingan perpisahannya sebelum benar-benar pensiun. Dalam kesempatan Piala Eropa kali ini, penulis rencananya akan berkeliling ke berbagai kota di Prancis dan berbagai negara lain. Sudah terbayang cerita salah satu jurnalis senior, Anton Sanjoyo, saat menjelajahi Piala Dunia 1998 selama 40 hari yang diakhir gelegak kemenangan jutaan rakyat di Arc de Triomphe. Perjalanan saya akan bergerak dari Paris ke Marseille, Spanyol melalui Barcelona, Madrid dan Sevilla, Italia, Swiss, bahkan Maroko melihat bagaimana negara-negara ini menyambut dan menikmati Piala Eropa termasuk memotret bagaimana jadi orang Belanda saat ini yang ingin rasanya Euro 2016 cepat berakhir karena menanggung beban berat sebagai tim kandidat juara Piala Dunia tetapi harus absen kali ini. Menunggu siapa yang akan menjadi juara memang penting, tetapi sepak bola bukan sekadar soal menang, jugai sebuah proses dengan dinamika yang subtil. Kita percaya Perancis, lepas dari masalah yang ada, akan mengedepankan rasa cinta kepada permainan yang telah memberi mereka double-double Piala Eropa-Piala Dunia. Yah, cinta itu yang membawa kita kembali melihat permainan ini, bukan uang, benci, kekuasaan, kecemburuan sosial, atau hal-hal yang lain. Selamat menikmati. Felicitations!

Sumber: Juara.net